Archive for the ‘Jejak’ Category

Aku Bangga Jadi Anak Petani

February 2, 2008



Dari sebuah sudut kota kecil di Timur Kota jogja, dengan hamparan persawahan luas nan hijau, pohon dan rerumputan, yang menjadi pemandangan utama, Disini aku terlahir dari keluarga petani sederhana, Tidak seperti hiruk pikuk keramaian di kota, disini hanya terdengar siulan burung, suara hembuasan angin menerpa dedaunan dan gemericik sungai, banyak orang bilang petani adalah oarang yang bodoh dan tidak berpendidikan, bagiku itu salah besar, justru Petanilah yang sesungguhnya mempunyai jiwa dan filosofi kemandirian untuk mencerdaskan bangsa, dari bertanilah orang tuaku mampu menjadikan aku seorang mahasiswa.

Mencari Jejak Awal Alam Semesta

January 23, 2008

Bagaimana kenampakan alam semesta sesaat setelah dentuman besar? Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pembentukan inti bintang atau planet?

Pertanyaan klasik dalam astro-fisika ini, sekarang hendak dijawab oleh ilmuwan Jerman menggunakan pemercepat partikel terbaru, yang pembangunannya dimulai belum lama ini di Darmstadt. Instalasinya diberi nama FAIR, yang merupakan singkatan dari fasilitas penelitian anti-Proton dan Ion. Walaupun FAIR berada di kota Darmstadt, tapi merupakan proyek bersama Eropa, yang melbatkan 2.500 ilmuwan dari 15 negara. Dengan pemercepat partikel raksasa ini, inti atom dipacu hingga mendekati kecepatan cahaya dan saling ditabrakkan atau ditumbukkan dengan obyek lainnya.

 

Kondisi awal alam semesta sesaat setelah Dentuman Besar serta perkembangannya masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Pada detik atau menit pertama setelah dentuman besar, seluruh materi di alam semesta masih terhimpun dalam apa yang disebut Big Bang Nucleosynthesis, yang panasnya milyaran derajat Celsius dengan kerapatan materi amat luar biasa. Baryon yakni pasangan Proton dan Neutron yang dilepaskan pada fase itu, terutama membentuk ikatan Hidrogen-1 dengan inti atom terdiri dari satu Proton, serta Helium-4 yang memiliki inti atom dengan dua Proton dan dua Neutron. Beberapa menit setelah dentuman besar, alam semesta mengembang dengan cepat dan membentuk elemen yang lebih berat. Pemercepat partikel di Darmstadt-FAIR, dibangun untuk membuat simulasi kondisi alam semesta pada detik-detik pertama setelah dentuman besar. Dengan mempercepat partikel mendekati kecepatan cahaya, yakni sekitar 300 ribu km per detik dan saling menabrakannya, diciptakan suhu tinggi dan kondisi seperti pada saat  Big Bang Nucleosynthesis.

Pimpinan proyek FAIR prof. Hans Gutbrod menjelaskan; “Dengan FAIR kita harapkan berhasil mempercepat sirkulasi milyaran partikel dan merekayasanya untuk bergerak saling mendekat dan dalam waktu 50 nano-detik seperti sebuah palu kami tumbukkan ke sebuah blok.“

 

Dengan itu dapat disimulasikan situasi ekstrim seperti yang terjadi pada inti bintang atau inti planet. Bahkan para pakar fisika berharap, mereka juga dapat membuat simulasi seperti pada saat awal mula terciptanya alam semesta.

 

Simulasi sekitar 15 milyar tahun lalu, ketika terjadi dentuman besar yang melahirkan alam semesta yang kita huni, hendak diamati menggunakan kamera besar yang disebut sebagai detektor oleh para peneliti Astro-Fisika Eropa. Lebih lanjut pimpinan proyek FAIR, Prof. Hans Gutbrod menjelaskan ;  “Ini sebuah perangkat, dimana di dalamnya inti atom saling bertabrakan. Perangkat ini panjangnya 25 meter dan tingginya 10 meter, dilengkapi dengan jutaan kanal elektronik.“

 

Misteri Unsur Berat

FAIR diharapkan memberikan jawab terhadap berbagai misteri astro-fisika yang selama ini hendak dipecahkan para peneliti. Antara lain, dari mana datangnya inti atom unsur berat di alam semesta kita? Demikian diungkapkan Reinhard Stock, pakar fisika dari Universitas Frankfurt. Sebab pada saat dentuman besar hanya tercipta materi ringan, terutama Hidrogen dan Helium. Unsur kimia yang lebih berat lainnya, seperti oksigen, belerang dan besi terbentuk beberapa milyar tahun kemudian di dalam inti bintang atau inti planet. Tapi elemen super berat seperti Uranium, diyakini hanya dapat terbentuk dalam bencana kosmis.

 

Pakar fisika dari Universitas Frankfurt, Reinhard Stock menegaskan; “Terdapat bencana astro-fisika yang eksotis, misalnya supernova atau tabrakan bintang neutron. Dan FAIR hendak mengujicoba proses penciptaan elemen berat yang ada di alam semesta, dimana sejumlah elemen berat yang langka dibuat sintesisnya dan diteliti sifat-sifatnya. Ini merupakan tema yang merupakan titik berat rekayasa dari instalasi baru tsb.“

 

Para pakar fisika juga mengharapkan FAIR dapat menciptakan kondisi Big Bang Nucleosynthesis, yang panasnya milyaran derajat Celsius dengan kerapatan materi amat luar biasa.

 

Materi Hadron

Dengan memanfaatkan perangkat pemercepat partikel berukuran amat besar FAIR, para ahli fisika hendak mempercepat inti atom hingga mendekati kecepatan cahaya dan saling menabrakannya. Sejauh ini para ahli fisika masih menghadapi misteri besar menyangkut materi Hadron, dimana bagian elementar dari Proton dan Neutron yang disebut Quarks terikat oleh gaya amat kuat. Gaya kuat atau Hadron ini memiliki sifat paradox. Semakin rapat Quarks semakin kecil gayanya, dan semakin membesar seiring dengan pertambahan jarak. Setelah itu jika mencapai jarak tertentu besarnya gaya akan konstan.

 

Pakar fisika dari Universitas Frankfurt, Reinhard Stock menjelaskan lebih lanjut; “Inti atom itu semacam gelembung yang berisi Proton dan Neutron. Jika saya menabrakkan dua gelembung semacam itu, berarti saya memampatkan materi di dalam gelembung. Di titik tabrakkan kerapatan materi menjadi amat tinggi. Dengan itu terbentuk kondisi yang tidak mengikuti hukum inti atom yang normal, dan diliuar semua hukum fisika yang dapat diamati di Bumi. Tercipta semacam dentuman besar dalam bentuk mini.“

 

Selain membuat simulasi dentuman besar, FAIR juga hendak membuat simulasi kondisi yang terjadi di inti planet Saturnus dan Yupiter. Dengan itu hendak dilacak rincian, bagaimana bagian terkecil dari materi berinteraksi. Selain itu juga hendak diujicoba komponen terbaru untuk membuat pesawat ruang angkasa dan satelit. Instalasi pemercepat partikel di Darmstadt itu memiliki diameter sekitar satu kilometer persegi, dan diharapkan mulai dapat digunakan tahun 2012 mendatang.

 

Sejauh ini, penelitian Hadron yakni gaya kuat di inti atom, yang mengikat Quarks menjadi Proton dan Neutron yang membentuk inti atom, masih berada pada tahapan awal. Bagaimana mekanismenya sebagian besar belum diketahui dengan pasti. Yang sudah diketahui adalah, gaya kuat di inti atom mempengaruhi secara mendasar struktur materi serta evolusi alam semesta. Sejauh ini, penelitian elemen berat juga terus dipacu. Seperti diketahui, elemen paling berat di alam adalah Uranium yang memiliki 92 proton. Akan tetapi para pakar kimia dan fisika dapat menciptakan 20 unsur lebih berat dari Uranium, dengan sintesa di laboratorium.

 

Elemen berat di alam, menurut pengetahuan paling aktual, tercipta dalam proses amat rumit di inti bintang berukuran besar atau dari ledakan Supernova. Instalasi penelitian FAIR dengan perangkat anti-Proton dan pancaran ion-nya, diharapkan juga dapat menjelaskan lebih rinci pembentukan elemen berat di alam ini.

Dua Keinginan

January 23, 2008

Di keheningan malam, Sang Maut turun dari hadirat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan sang lelap.

Ketika rembulan tersungkur kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam legam, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di tengah pemukiman — berhati-hati tidak menyentuh apapun — sampai tiba di sebuah istana. Dia masuk dan tak seorang pun kuasa menghalangi. Dia tegak di sisi sebuah ranjang dan menyentuh pelupuk matanya, dan orang yang tidur itu bangun dengan ketakutan.

Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan, “Menyingkirlah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau masuk istana ini? Apa yang kau inginkan? Minggatlah, karena akulah empunya rumah ini. Enyahlah kamu, kalau tidak, kupanggil para budak dan para pengawal untuk mencincangmu menjadi kepingan!”

Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, “Akulah kematian, berdiri dan membungkuklah kepadaku.”

Dan si kaya berkuasa itu bertanya, “Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika pekerjaanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kuat seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri oleh taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku bergetar menatap sayap-sayapmu yang menjijikan dan tubuhmu yang memuakkan.”

Setelah diam beberapa saat dan tersadar dari ketakutannya, ia menambahkan, “Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah emasku seperlunya atau nyawa salah seorang dari budak, dan tinggalkanlah diriku… Aku masih memperhitungkan kehidupan yang masih belum terpenuhi dan kekayaan pada orang-orang yang belum terkuasai. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, dan pada hasil bumi yang belum tersimpan. Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya selir, cantik bagai pagi hari, untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putra tunggal yang kusayangi, dialah biji mataku. Ambillah dia juga, tapi tinggalkan diriku sendirian.”

Sang Maut itu menggeram, engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak tahu diri. Kemudian Maut mengambil tangan orang itu, mencabut kehidupannya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk memeriksanya.

Dan maut berjalan perlahan di antara orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling kumuh yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, “Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah ruhku, impianku yang mengejawantah dan hakikat harapanku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, karena kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Jangan tinggalkan daku.”

“Aku telah memanggilmu berulang kali, namun kau tak mendengarkan. Tapi kini kau telah mendengarku, karena itu jangan kecewakan cintaku dengan peng-elakan diri. Peluklah ruhku, Sang Maut terkasih.”

Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruhnya di bawah sayap-sayapnya.

Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang — ke dunia — dan dalam bisikan ia berkata, “Hanya mereka yang di dunia mencari Keabadian-lah yang sampai ke Keabadian itu.”

(dari “Kelopak-Kelopak Jiwa” – Gibran Khalil Gibran)

Deru Campur Debu

January 23, 2008

Deru Campur Debu

oleh Chairil Anwar 

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Perjalanan “Cat Stevens” Menjadi “Yusuf Islam”

January 23, 2008

“Aku dilahirkan di London, jantung dunia Barat. Aku dilahirkan di era televisi dan angkasa luar. Aku dilahirkan di era teknologi mencapai puncaknya di negara yang terkenal dengan peradabannya, negara Inggris. Aku tumbuh dalam masyarakat tersebut dan aku belajar di sekolah Katholik yang mengajarkanku tentang agama Nashrani sebagai jalan hidup dan kepercayaan. Dari sini pula aku mengetahui apa yang harus kuketahui tentang Allah, al-Masih ‘Alaihis-salaam dan taqdir, yang baik maupun yang buruk.”

“Mereka banyak memberitahuku tentang Allah, sedikit tentang al-Masih dan lebih sedikit lagi tentang Ruhul Qudus (Jibril).”

“Kehidupan di sekelilingku adalah kehidupan materi. Paham materialis gencar diserukan dari berbagai media informasi. Mereka mengajarkan, kekayaan adalah kekayaan harta benda yang sesungguhnya, dan kefakiran adalah ketiadaan harta benda secara hakiki. Amerika adalah contoh negara kaya dan negara-negara dunia ketiga adalah contoh kemiskinan, kelaparan, kebodohan, dan kepapaan.
Karena itu, aku harus memilih dan meniti jalan kekayaan, supaya aku bisa hidup bahagia; supaya aku dapat kenikmatan hidup. Karena itu, aku membangun falsafah hidup bahwa dunia tidaklah ada kaitannya dengan agama. Falsafah inilah yang aku jalani, agar aku mendapatkan kebahagiaan jiwa.”

“Lalu, aku mulai melihat kepada sarana untuk meraih kesuksesan. Dan, cara yang paling mudah menurutku adalah dengan membeli gitar, mengarang lagu, dan menyanyikannya sendiri. Aku lalu tampil di hadapan mereka. Inilah yang benar-benar aku lakukan dengan membawa nama “Cat Stevens”. Dan tidak berapa lama, yakni ketika aku berusia 18 tahun, aku telah menyelesaikan rekaman dalam delapan kaset. Setelah itu banyak sekali tawaran. Dan aku pun bisa mengumpulkan uang yang banyak. Di samping itu, pamorku pun mencapai puncak.”

“Ketika aku berada di puncak ketenaran, aku melihat ke bawah. Aku takut jatuh! Aku dihantui kegelisahan. Akhirnya, aku mulai minum minuman keras satu botol setiap hari, supaya memotivasi keberanianku untuk menyanyi. Aku merasa orang-orang di sekelilingku berpura-pura puas. Padahal, dari wajah mereka, tak seorang pun tampak puas, kepuasan yang sesungguhnya. Semuanya harus munafik, bahkan dalam jual beli dan mencari sesuap nasi, bahkan dalam hidup! Aku merasa, ini adalah sesat. Dari sini, aku mulai membenci kehidupanku sendiri. Aku menghindar dari orang banyak. Aku lalu jatuh sakit. Aku kemudian diopname di rumah sakit karena sakit paru-paru. Ketika di rumah sakit kondisiku lebih baik karena mengajakku berpikir.”

“Aku memiliki iman kepada Allah. Tetapi, gereja belum mengenalkanku siapakah Tuhan itu dan aku tak mampu sampai pada hakikat Tuhan sebagaimana yang dibicarakan gereja! Pikiranku buntu. Maka, aku memulai berpikir tentang jalan hidup yang baru. Aku memiliki buku-buku tentang akidah dan masalah ketimuran. Aku mencari tentang Islam dan hakikatnya. Dan seperti ada perasaan, aku harus menuju pada titik tujuan tertentu, tetapi aku tidak tahu keberadaan dan pengertiannya.”

“Aku tidak puas berpangku tangan, duduk dengan pikiran kosong. Aku mulai berpikir dan mencari kebahagiaan yang tidak kudapatkan dalam kekayaan, ketenaran, puncak karir maupun di gereja. Maka aku mulai mengetuk pintu Budha dan falsafah China. Aku pun mempelajarinya. Aku mengira, kebahagiaan adalah dengan mencari berita apa yang akan terjadi di hari esok, sehingga kita bisa menghindari keburukannya. Aku berubah menjadi penganut paham Qadariyyah. Aku percaya dengan bintang-bintang, mencari berita apa yang akan terjadi. Tetapi, semua itu ternyata keliru.
Aku lalu pindah kepada ajaran komunis. Aku mengira bahwa kebajikan adalah dengan membagi kekayaan alam ini kepada setiap manusia. Tetapi, aku merasa bahwa ajaran komunis tidak sesuai dengan fitrah manusia. Sebab, keadilan adalah engkau mendapat sesuai apa yang telah engkau usahakan, dan ia tidak lari ke kantong orang lain.”

“Lalu, aku berpaling pada obat-obat penenang. Agar aku memutuskan mata rantai berbagai pikiran dan kebimbangan yang menyesakkan. Setelah itu, aku mengetahui bahwa tidak ada akidah yang bisa memberikan jawaban kepadaku. Yang bisa menjelaskan kepadaku hakikat yang sedang aku cari. Aku putus asa. Dan ketika itu aku belum mengetahui tentang Islam sama sekali. Maka aku tetap pada keyakinanku semula, pada pemahamanku yang pertama, yang aku pelajari dari gereja. Aku menyimpulkan bahwa kepercayaan-kepercayaan yang aku pelajari itu adalah keliru. Dan bahwa gereja sedikit lebih baik daripadanya. Aku kembali lagi kepada gereja. Aku kembali mengarang musik seperti semula. Dan aku merasa Kristen adalah agamaku. Aku berusaha ikhlas demi agamaku. Aku berusaha mengarang lagu-lagu dengan baik. Aku berangkat dari pemikirang Barat yang bergantung pada ajaran-ajaran gereja. Yakni, ajaran yang memberikan inspirasi kepada manusia bahwa dia akan sempurna seperti Tuhan jika ia melakukan pekerjaannya dengan baik serta ia mencintai dan ikhlas terhadap pekerjaannya.”

“Pada tahun 1975 terjadi suatu yang luar biasa, yakni ketika saudara kandungku tertua memberiku sebuah hadiah berupa satu mushaf Alquran. Mushaf itu masih tetap bersamaku sampai aku mengunjungi al-Quds Palestina. Setelah kunjungan tersebut, aku mulai mempelajari kitab yang dihadiahkan oleh saudaraku itu. Suatu kitab yang aku tidak mengetahui apa isi di dalamnya, juga tak mengetahui apa yang dibicarakannya. Lalu aku mencari terjemahan Alquran al-Karim setelah aku mengunjungi al-Quds. Pertama kalinya, melalui Alquran aku berpikir tentang apa itu Islam. Sebab, Islam menurut pandangan orang Barat adalah agama yang fanatik dan sektarian. Dan umat Islam itu sama saja. Mereka adalah orang-orang asing, baik Arab maupun Turki. Kedua orang tua saya berdarah Yunani. Dan orang Yunani sangat benci kepada orang Turki Muslim. Karena itu, seyogyanya aku membenci Alquran yang merupakan agama dan pedoman orang-orang Turki, sebagai dendam warisan. Tetapi, aku memandang, aku harus mempelajarinya (terjemahannya). Tidak mengapa aku mengetahui isinya.”

“Sejak pertama, aku merasa bahwa Alquran dimulai dengan Bismillah (dengan nama Allah), bukan dengan nama selain Allah. Dan ungkapan Bismillahirrahmanirrahiim begitu sangat berpengaruh dalam jiwaku. Lalu surat al-Fatihah itu berlanjut dengan Faatihatul Kitab, Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin. Segala puji milik Allah Sang Pencipta sekalian alam, dan Tuhan segenap makhluk.
Sampai waktu itu, pemikiran saya tentang Tuhan begitu lemah tak berdaya. Mereka mengatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya Allah adalah Maha Esa, tetapi terbagi menjadi tiga dzat! Bagaimana? Saya tidak mengerti’!”

“Dan, mereka mengatakan kepadaku, “Sesungguhnya Tuhan kita bukanlah Tuhannya orang Yahudi.”
Adapun Alquran, maka ia mulai dengan beribadah kepada Allah Yang Maha Esa, Tuhan segenap alam semesta. Alqura menegaskan keesaan Sang Pencipta. Dia tidak memiliki sekutu yang berbagi kekuasaan dengan-Nya. Dan, ini adalah pemahaman baru bagiku. Sebelumnya, sebelum aku mengetahui Alquran, aku hanya mengetahui adanya pemahaman kesesuaian dan kekuatan yang mampu mengalahkan mu’jizat. Adapun sekarang, dengan pemahaman Islam, aku mengetahu bahwa hanya Allah semata yang mampu dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

“Hal itu masih dibarengi dengan keimanan terhadap hari akhir dan bahwa kehidupan akhirat itu abadi. Jadi, tidaklah manusia itu dari segumpal daging kemudian berubah setiap hari kemudian menjadi debu, sebagaimana yang dikatakan oleh ahli biologi. Sebaliknya, apa yang kita lakukan dalam kehidupan dunia ini sangat menentukan keadaan yang akan terjadi dalam kehidupan di akhirat nanti. Alquran-lah yang menyeruku kepada Islam. Maka aku pun memenuhi seruannya. Adapun gereja yang menghancurkanku dan membuatku lelah dan letih, maka dialah yang mengantarkanku kepada Alquran. Yakni, ketika aku tidak mampu menjawab berbagai pertanyaan jiwa dan kalbuku.”

“Di dalam Alquran aku melihat sesuatu yang asing. Ia tidak sama dengan kitab-kitab lain. Ia tidak mengandung beberapa bagian atau sifat-sifat yang ada dalam kitab-kitab agama lain yang telah kubaca. Di sampul Alquran juga aku tidak mendapatkan nama pengarangnya. Karena itu, aku yakin betul dengan makna wahyu yang Allah wahyukan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus-Nya. Kini aku telah memahami dengan jelas betul tentang perbedaan Alquran dengan Injil yang ditulis oleh tangan-tangan pengarang yang berbeda-beda sehingga melahirkan kisah-kisah yang bertentangan.
Aku berusaha untuk mencari kesalahan di dalam Alquran, tetapi aku tidak menemukannya. Semua isi Alquran adalah sesuai dengan pemikiran keesaan Allah yang murni. Dari sini, aku mulai mengenal tentang apa itu Islam.”

“Alquran bukanlah satu-satunya risalah. Sebaliknya, di dalam Alquran didapatkan nama-nama semua nabi yang dimuliakan oleh Allah. Alquran tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya. Dan teori ini sangat logis. Sebab, jika anda beriman kepada seorang nabi dan tidak kepada yang lainnya, berarti anda telah mengingkari dan menghancurkan kesatuan risalah. Dari sejak itu, aku memahami bagaimana berantainya risalah sejak awal penciptaan manusia. Dan bahwa manusia sepanjang sejarah selalu terdiri dari dua barisan, mu’min dan kafir. Alquran telah menjawab semua hal yang kupertanyakan. Dengan demikian, aku merasa bahagia. Kebahagiaan mendapatkan kebenaran.”

“Aku mulai membaca Alquran semuanya, sepanjang satu tahun penuh. Aku mulai menerapkan pemahaman yang aku baca dari Alquran. Saat itu aku merasa bahwa akulah satu-satunya muslim di muka bumi ini. Lalu aku berpikir bagaimana aku menjadi muslim yang sesungguhnya. Maka aku pergi ke masjid London dan aku mengumumkan keislamanku. Aku mengatakan, ‘Asyhadu anlaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah’.”

“Ketika itu, aku yakin bahwa Islam yang kupeluk adalah risalah yang berat, bukan suatu pekerjaan yang selesai dengan sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat. Aku telah dilahirkan kembali. Dan aku telah mengetahui ke mana aku berjalan bersama saudara-saudara muslimku yang lainnya. Sebelumnya, aku sama sekali tidak pernah menemui salah seorang dari mereka. Seandainya pun ada seorang muslim yang menemuiku dan mengajakku kepada Islam, tentu aku menolak ajakkannya, karena keadaan umat Islam yang diremehkan dan diolok-olok oleh media informasi Barat. Bahkan, media umat Islam sendiri sering mengolok-olok hakikat Islam. Mereka justru sering mendukung berbagai kedustaan dan kebohongan yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam, padahal mereka ini tidak mampu memperbaiki bangsa mereka sendiri yang kini telah dihancurkan oleh penyakit-penyakit akhlak, sosial, dan sebagainya.”

“Aku telah mempelajari Islam dari sumbernya yang utama, yaitu Alquran. Selanjutnya, aku mempelajari sejarah hidup (sirah) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana beliau dengan perilaku dan sunnahnya mengajarkan Islam kepada umat Islam. Aku lalu mengetahui kekayaan yang agung dari kehidupan dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku sudah lupa musik. Aku bertanya kepada kawan-kawanku, “Apa aku mesti melanjutkan karir musikku?” Mereka menasihatiku agar aku berhenti, sebab musik akan melalaikan dari mengingat Allah. Dan itu bahaya besar. Aku menyaksikan pemuda-pemudi yang meninggalkan keluarga mereka dan hidup di tengah-tengah musik dan lagu. Ini adalah sesuatu yang tidak diridhai oleh Islam, yang menganjurkan dibangunnya generasi-generasi tangguh.”

Itulah sekilas kisah islamnya seorang penyanyi terkenal dari Inggris. Ia setelah memeluk Islam mengubah namanya menjadi Yusuf Islam. Allah telah mengganti segala yang ia dapatkan dari musik yang kemudian dia tinggalkan dengan hidayah iman kepada-Nya yang tak dapat dibandingkan dengan apa pun jua.

Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Idonesia