MERAMAL ADALAH HARAM

By putra pamungkas


Secara umum Meramal artinya melakukan suatu prediksi atau dugaan dan dalam dunia ilmiah istilah ini lebih populer disebut sebagai hipotesa. Sebagai sebuah prediksi tentu saja kita tidak bisa menghakiminya sebagai hal yang terlarang apalagi sesat. Prediksi atau ramalan bukan berupa nilai yang pasti sehingga hasilnya bisa benar dan bisa juga salah, tergantung seberapa akurat data-data yang diolah sebelum akhirnya menjadi sebuah perkiraan (hipotesa). Allah sendiri berfirman dalam al-Qur’an bahwa sebuah teori, sebuah prediksi ataupun ramalan tidak akan bisa mengalahkan kebenaran yang sesungguhnya.

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali dugaan saja. Sesungguhnya dugaan itu tidak bisa mengalahkan kebenaran. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. – Qs. 10 Yunus : 36

Namun sangat disayangkan, akhir-akhir ini banyak manusia terjebak dalam memastikan hasil akhir dari dugaan yang sebenarnya masih bersifat kemungkinan (belum pasti). Dalam kalangan ilmuwan terdapat suatu kesimpulan bahwa apa yang telah dikatakan benar, sesungguhnya belumlah mutlak benar. Sesuatu hal adalah benar menurut anggapan (dugaan) relatif disuatu jaman karena pada periode berikutnya bisa saja terdapat bukti yang memperbaiki (dugaan) kebenaran sebelumnya, hingga apa yang kemarin telah benar, kini harus dirubah lagi, dan besok mungkin disempurnakan lagi. Tingkat keberhasilan dari penganalisaan ini harus selalu diukur dengan tahap persetujuan antara pernyataan dan kenyataan tentang sesuatu itu sendiri.

meramal ramalan peramalMempelajari ilmu ramal pada hakekatnya tidak terlarang selama masih dalam koridor teori kemungkinan, namun jika keluar dari teori itu dan masuk dalam dunia keabsolutan maka tentu saja akan menuai konfrontasi terbuka terhadap ajaran agama dan nilai-nilai keuniversalan nurani (kata hati).

Apa yang dilakukan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dengan ramalan cuacanya serta ilmuwan vulkanologi yang mengetengahkan ramalan terhadap meletusnya sebuah gunung atau akan munculnya gempa berkekuatan tertentu disuatu daerah adalah salah satu contoh ilmu ramal yang bisa dibenarkan, sebab mereka mempergunakan teknologi yang berdasarkan hasil karya akal pikiran dan memiliki tujuan agar masyarakat bisa mewaspadai akibat yang terjadi dari kejadian-kejadian tersebut.

Ustadz Firman mungkin bisa juga digolongkan sebagai paranormal, atau lebih tepatnya spiritualist. Namun sama sekali Ustadz Firman bungkam jika ditanya tentang masa depan. Ustadz Firman tidak seperti paranormal pada umumnya yang mau meramal setiap kali ada permintaan dari klien meskipun tidak ada jaminan ramalan itu selalu benar. Namun Ustadz Firman tetap menghormati dan menghargai teman paranormal lain yang punya kemampuan meramal dan bersedia meramal. Bagi Ustadz Firman masalah ramal-meramal adalah sah-sah saja dalam dunia paranormal. Memang ada ilmu-ilmu yang bisa dipelajari untuk meramal. Namun untuk pribadi, mohon dimaklumi, Ustadz Firman tidak bersedia meramal. Apa yang membuat Ustadz Firman diam adalah :

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima sholatnya selama 40 hari”. (Hadist Riwayat Muslim)

“Barangsiapa yang mendatangi seorang peramal lalu mempercayai apa yang dia ramalkan, maka ia telah kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .”  (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Artikel ini ditulis karena banyaknya orang yang salah paham tentang prinsip dan keyakinan yang dianut Ustadz Firman Langit. Beberapa orang meminta Ustadz Firman untuk meramalkan nasib, hasil pertandingan sepak bola dan sebagainya. Sungguh Ustadz Firman dengan repot harus menjelaskan masalah ramalan kepada mereka yang belum paham.

Kadang (dan tidak selalu) Ustadz Firman memang mendapatkan “pertanda” dan mengetahui berita-berita dari beberapa jin tentang suatu kejadian yang akan datang. Dulu Ustadz Firman sempat menjadi peramal, tapi hanya sebentar, sekitar 3 bulan. Setelah sadar akan bahaya meramal, Ustadz Firman berhenti total untuk mengatakan pengetahuannya kepada siapapun dan dalam kondisi apapun.

Islam melarang seseorang untuk meramal atau memperkirakan masa depan dengan cara-cara yang tidak ilmiah. Lain halnya jika meramalkan cuaca, maka itu sah-sah saja karena bedasarkan data fisik yang faktual. Oleh karena itu sedikitpun Ustadz Firman tidak bersedia meramal atau mengatakan sesuatu apapun tentang firasat, mimpi, dan pertanda yang dialami. Kalaupun Ustadz Firman mendapat pertanda melalui mimpi, ilham atau kabar dari makhluk gaib tentang suatu kejadian maka itu bukan karena kehendak Ustadz Firman. Informasi itu datang dengan sendirinya, dan Ustadz Firman menyakini sebagai kehendak Tuhan. Pengetahuan itu adalah “amanah” yang harus dijaga. Jangan sampai diri Ustadz Firman terjerumus menjadi peramal yang membanggakan ramalanya jika terbukti benar.

Kadang juga datang kepada Ustadz Firman bangsa jin yang mengetahui berita-berita gaib tentang kejadian ayang akan datang. Mereka tahu berita itu karena mencuri berita langit. Namun Ustadz Firman memilih mengabaikan berita itu, karena Ustadz Firman yakin meskipun omongan jin itu benar, pada suatu saat jin itu hanya akan menjerumuskan dan menyesatkan jika terlalu dipercaya.

Menurut Ustadz Firman, berhubungan dengan jin sama halnya berhubungan dengan preman atau mafia manusia, karena sebagian besar mereka licik dan jahat. Maka dari itu perlu kewaspadaan dan tingkatan ilmu yang tinggi untuk bisa tetap selamat menghadapi tipudayanya.

Sesungguhnya sebagian dari para peramal itu mendapatkan pengetahuannya dari kalangan jin. Padahal Jin sama juga seperti manusia, ada yang baik dan jujur, tapi lebih banyak yang penuh tipu muslihat menyesatkan. Proses datangnya “pengetahuan rahasia” dari Jin/Setan hingga kepada sebagian peramal sudah sangat jelas tersebutkan di dalam sebuha hadist berikut.

Dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

“Tatkala Allah telah menetapkan satu urusan di langit, para malaikat mengepak-ngepakkan sayap mereka untuk menunjukkan ketundukkan mereka terhadap firman Allah, seolah-olah firman Allah itu adalah rantai di atas gundukan tanah yang menembus diri mereka. Ketika hati mereka sudah demikian gentar, tiba-tiba mereka ditanya: “Apa yang difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab: “Ia memfirmankan kebenaran belaka, sesungguhnya Dia Yang Maha Tinggi Lagi Maha Besar.” Maka kata-kata itu didengar oleh jin yang mencuri-curi kabar dari langit. Demikianlah berita-berita itu dioper secara estafet -Sufyan salah seorang perawi hadits ini memberikan gambaran dengan telapak tangannya– beliau menyilang-nyilangkan jari-jarinya. Lalu berita itu diberikan oleh pencuri berita itu kapada yang di bawahnya, kemudian diberikan lagi kepada yang dibawahnya, sampai terakhir hinggap di lisan ahli sihir atau peramal. Terkadang mereka sudah keburu disambar oleh bintang berekor sebelum sempat menyampaikannya. Terkadang mereka sempat menyampaikan kepada sang peramal sebelum sempat disambar oleh bintang berekor. Namun kemudian Jin membumbuinya dengan seratus kebohongan. Ia mengatakan: “Bukankan si Fulan telah mengatakan kepada kita demikian pada hari ini dan itu?” Secara bertepatan, sama dengan kata yang didengar dari berita langit.”

Jin dapat mendengar ucapan para malaikat kepada sesama malaikat adalah dengan takdir dari Allah. Dan itu adalah persoalan yang kongkrit, bukan berarti Jin mengetahui hal yang ghaib. Namun dengan satu kata yang didengarnya itu, Jin membumbuinya dengan seratus kebohongan. Seperti memberikan kabar bahwa si A akan melahirkan anak laki-laki, lalu si peramal mengabarkannya kepada orang banyak. Ternyata yang terjadi memang demikian, sehingga mereka merasa mantap dengan berita itu. Atau memberikan kabar bahwa si A akan menikah tahun sekian atau akan meninggal dunia tahun sekian, dan berbagai kejadian rinci sejenisnya. Dengan itu, orang banyak menjadi terpukau dan mendekatkan diri mereka kepadanya dengan memberikan banyak hadiah dan uang. Kebohongan itu akhirnya menjadi lahan pencariannya setelah orang banyak sudah merasa mantap terhadap omongannya, sehingga iapun mencari nafkah dengan cara yang haram pula.

 

sumber: http://mahaspiritual.com